STRATEGI EKONOMI MILITER

1. Pendahuluan 

Mendengar kata Strategi, hampir lebih dari setengah penduduk negeri ini akan berpikir langsung bahwa itu urusannya militer. Hampir tidak salah hipotesa ini. Nyata-nyata bangsa ini belum memiliki strategi strategi nasional yang jelas. Jargon ungkapan pembelaan diri seperti Prolita, Pelita, Propenas dan lain-lain, bukankah itu strategi nasional? Kalimat tersebut dapat dinegasikan bahwa itu semua adalah program, dan hirarkis posisi program ada di bawah Policy.

Urut-urutannya sebagai berikut: Visi/Misi (atau pernyataan misi)—strategi—policy—program. Strategi nasional tersebut adalah suatu “perangkat” olah permainan pengambil keputusan nasional menghadapi dinamika sistem internasional. Jantung dinamika sistem internasional adalah kepentingan nasional masing-masing negara bangsa.

Harmonis tidaknya atau di antaranya sangat tergantung posisi antar kepentingan nasional ini. Strategi instrumen kekuatan nasional disini hanya akan menonjolkan elemen ekonomi dan militer nasional, meskipun disadari bahwa instrumen lainnya dapat didayagunakan demi kepentingan dan tujuan nasional suatu bangsa dan Negara. Alasannya kedua instrumen tersebut memiliki sifat yang sangat kritis yakni dapat didayagunakan sebagai  kekuatan “pemaksa” (coercion).

2. Kepemimpinan Strategik 

Sangatlah wajar, oleh karena itu perangkat pertama yang akan dibangun oleh pemerintahan baru adalah struktur kepentingan nasional dan tentu saja setelah ada persetujuan Parlemen. Kepentingan Nasional akan menjadi fondasi semua strategi nasional rumusannya sederhana, kognitif, motivasi dan inovasi bagi kepemimpinan untuk memandang ruang sistem internasional atau konkritnya berhubungan baik atau tidak dengan aktor negara lain.

Oleh karena itu dibutuhkan elit atau pemimpin yang lebih dari sekedar pemimpinan nasional, namun pemimpin strategik. Kepemimpinan strategik menjadi definisi yang mengglobal (outward-looking&globally-looking), bukan lagi kepemimpinan  nasional yang lebih banyak berpikir ke dalam (inward-looking).

Alasan lain, semakin sulitnya menjawab mengapa negara bangsa berperang  atau berdamai? Mengapa dipilih berdamai? Dipillih kooperasi ? Mengapa digunakan instrumen kekuatan militer? Mengapa digunakan instrumen kekuatan politiko-militer dan ekonomi? Mengapa tahap ini dilakukan opsi strategi penangkalan diplomatik saja dan sebagainya? Untuk itu sangat diperlukan pengetahuan yang cukup mendalam tentang sistem internasional, tingkat analisis, realisme dan idealisme, multirealisme dan unilateralisme, isu etika  dalam perang (Dorff,hal. 5).

Barangkali sudah mulai didesignasikan bahwa jabatan terstruktur setingkat bintang dua ke atas (General Army/Marine dan Flag-officers Navy/Air Force) adalah pembawa amanah kepemimpinan strategik, bukan lagi kepemimpinan nasional. Berikutnya instrumen apa yang sangat mendasar sebagai tantangan bagi  Kepemimpinan strategik? Instrumennya adalah hukum internasional.

Dasar pernyataan ini adalah ungkapan Kofi Annan sebagai berikut:……..State souvereignity, in its dan seterusnya. States are now widely understood to be instruments at the  service of their people, not vice versa. Tantangan bagi kepemimpinan strategik adalah memanajemenkan sumber  daya nasional (means),membawanya  dengan methoda yang paling effektif (ways) dan menjamin menuju ke tujuan nasional (ends).  (Jablonsky, hal.69)

Tujuan nasional tidak lain tidak bukan adalah ekspresi kepentingan nasional.Ekpresi ini tentu saja sangat membutuhkan sejumlah tertentu penggunaan sumber daya nasional yang paling efisien. Sumber daya nasional yang mana? Tentu saja yang dipandegani oleh masing-masing intrumen kekuatan nasional suatu negara, seperti   kekuatan   politik,  ekonomi   dan   militer.  Konsep   ini  nampaknya sangat sederhana, namun bagaimana perlakuannya di lapangan?

Elit ekonomi manapun juga sadar atau tidak akan mengetahui bagaimana memanfaatkan  sumber daya ekonomi nasional. Namun sadarkah  untuk kepentingan yang mana, bagaimana dan haruskah bekerja sendiri sendiri? Kembali fenomena di Republik ini, siapakah “dirijen” pengatur semua pendayagunaan sumber daya nasional?

Tentu saja pada saat yang paling kritis “dirijen”nya adalah Presiden, namun menunggu “waktu-puncak” kekritisan, akan menjadi suatu yang terlambat bila menyangkut soal hidup-matinya bangsa ini. Situasi fenomenal ini mendemonstrasikan bahwa konsep strategik nyata-nyata  sangat sulit. Baru saja fenomenal tentang sumber daya ekonomi nasional sudah banyak menimbulkan kandidat pertanyaan  strategis. Nah,bagaimana fenomenal instrumen kekuatan militer nasional, dan  politik nasional, belum yang lain-lainnya? Akan sama nasibnya bukan?

3. Kepentingan, Kepentingan Nasional dan Strategi Keamanan Nasional 

Mengamati konsep negara bangsa barangkali merupakan suatu mendasar sekaligus jawaban untuk mencari peluang mengapa perlu dicari bobot dari kepentingan nasional. Diawali dengan mencermati apa sebenarnya yang diharapkan, dikejar ataupun dipromosikan oleh suatu negara bangsa, akan memberikan isyarat kepada negara bangsa lain ….”inilah saya”, kata negara bangsa tersebut.

Artinya perilaku agregasi negara bangsa tersebut akan mudah dibaca dari apa maunya mereka.Paraanalis sistem internasional hampir dipastikan mengawali membaca perilaku negara bangsa dengan cara seperti ini, dengan premisnya: negara bangsa akan memiliki  dasar, atau kepentingan fundamental yang mengarisbawahi suatu kepentingan atau perilakunya.

Kepentingan tersebut lebih sering dinyatakan sebagai kepentingan nasional. Namun cukupkah dengan sekedar pengamatan yang mungkin agak dangkal ini? Tidak bisakah dibagi-bagi dalam beberapa kriteria sebagai teknik mempermudah pengambilan keputusan baik bagi pemiliknya atau bahkan negara lain yang memandang memilki kepentingan (tersembunyi) terhadap negera bangsa tersebut? Bagaimana dengan kategori kedaulatan, kesejahteraan, wilayahnya? Bisakah disentuh dengan cara yang paling lunakpun? Jawabnya tegas——akan dijawab dengan kemarahan bangsa negara tersebut. Mengapa?

Suka atau tidak suka batasan atau muatan pokok (core) kepentingan nasional negara bangsa masing-masing bisa saja agak berbau kontroversi menurut pengamatan siapapun juga. Namun juga dipahami bahwa perlu suatu kekuatan di belakang kepentingan tersebut yang memberikan keyakinan terhadap pemilik kepentingan itu sendiri, bahkan negara bangsa lainpun. Dampaknya suatu kekuatan (teknis), besar–kecil–lemah terhadap kapabilitasnya menjaga kedaulatan wilayahnya akan menjadi faktor sangat kritis bagi kepentingan nasionalnya. Kekuatan strategik lainnya sebagai penjamin terlaksananya tujuan nasional tersebut adalah strategi keamanan nasional.

Muatan kepentingan nasional biasanya akan meliput kesejahteraan rakyat, melindungi jiwa dan keamanan setiap individu rakyatnya dimanapun juga berada, dan kedaulatan tentang wilayah, nilai bangsa dan kelembagaannya. Pernyataan kepentingan berbeda dengan muatan tujuan nasional, sehingga ubah saja dalam bentuk “outcome” per setiap kepentingan  nasionalnya dan itulah tujuan nasional. Misalnya tercapainya kedaulatan wilayah dan seterusnya. Sedangan muatan strategi keamanan nasional lebih dalam bentuk bagaimana melindungi, menjaga atau meyakinkan dengan suatu kegiatan  sedemikian rupa sehingga “outcome” tujuan nasional dapat tercapai.Kegiatan-kegiatan tersebut adalah strategi-strategi yang diikuti oleh semua instrumen kekuatan nasionalnya 

4. Dimensi Ekonomi Nasional

Instrumen kekuatan ekonomi nasional bukan saja sangat berguna untuk melancarkan kegiatan-kegiatan atau strategi menuju tercapainya tujuan nasional, di mana tujuan nasional adalah jantung dan “outcome” kepentingan nasional. Tak seorang pun membantah bahwa konsep utilitas strategi ekonomi nasional bukan saja langsung untuk meningkatkan kekuatan perekonomian nasional namun juga dapat digunakan sebagai senjata ampuh dalam konsep penangkalan,tepatnya penolakan diplomasi (coercive diplomacy). Meskipun para ekonom sendiri bisa berbantah-bantahan tentang kekuatan ekonomi nasional sebagai kebisaan (ability) relatif  kegiatan   ekonomi untuk  memprodusi barang dan jasa yang terukur dalam GNP.

Sejak itulah GNP menjadi ukuran kekuatan ekonomi nasional, meskipun tidak juga benar. Dalam kontrol komoditi tertentu, bisa saja negara bangsa dengan GNP rendah dapat mengatur negara bangsa dengan GNP rasio yang lebih dari angka 10. Namun kecenderungan mengglobal dewasa ini semakin mendewakan kekuatan ekonomi nasional sebagai ukuran kekuatan nasional (Treverton, et all, 2005,hal.6). Kekuatan tersebut tentu saja menjadi perhatian para pemimpin strategik.

Apa artinya semua kekuatan nasional yang ada, kalau memiliki utilitas yang rendah. Konsep utiltas semua instrumen kekuatan nasional, seperti ekonomi-militer nasional sangatlah sulit dilaksanakan di lapangan, kecuali bagi negara bangsa yang sudah terlatih, utamanya pemimpin strategiknya di komunitas ekonomi dan militer nasional.

Pada tahun 1997, Mayjen Deptula (USAF) menyarankan untuk melaksanakan strategi keamanan nasional lebih dalam lagi agar paduan komponen kekuatan nasional seperti politiko-ekonomi-militer betul betul lebih solid (Foster, 2003,hal.1). Sementara dalam bahasan ini, sedikit saja menyentuh instrumen politik, mengingat instrumen ekonomi dan militer memiliki kekuatan kritis yang unik, yakni kekuatan “pemaksa” (coercive). Hal-hal lain yang menarik mecermati paduan strategi militer dan ekonomi nasional ini didemonstrasikan dengan persamaannya.Sekurang-kurangnyalima(5) persamaan yang teramati (Foster, 2003, hal.38).

Pertama, membutuhkan fomat koalisi dalam beberapa hal. Kedua, memiliki perilaku  dan kepedulian “just-war” (mencermati Just War, Jus InBello, dan Just Cause, periksa Cook, 2004, hal.19). Ketiga,  butuh  waktu terhadap efek substantial.

Keempat, format efek mengikuti perubahan waktu. Kelima, ukuran efek tingkat tinggi/nasional sulit dilakukan. Persamaan perilaku ini akan memudahkan kedua instrumen tersebut bekerjasama.

Bila ada entitas yang bekerjasama, masalah besar adalah bagaimana mengoptimalkan kedua entitas ini? Secara “rekayasa” (engineering), dapat didefinisikan menjadi …….bagaimana membuat satu sama lain menjadi komplementer agar obyektif kedua instrumen tersebut optimal. Teknik yang ditawarkan, oleh komuniti strategis ekonomi nasional dan militer nasional, adalima(5) strategi komplementer (Foster, 2003, hal 53, 54).

Pertama, gunakan kekuatan ekonomi dan militer nasional untuk menakut-nakuti/ancam resim yang sedang memegang kontrol. Kedua, gunakan militer untuk menyerang (berikan sanksi) agar bahanbaku produksi lawan menjadi kurang atau kekurangan. Ketiga, gunakan teknik untuk melumpuhkan jejaring “kepemimpinan nasional” dan kroni-kroninya. NATO menggunakan teknik ini menghadapi Milosevic dengan menggempur selama 24 jam di Serbia. Keempat, lumpuhkan jejaring lintas perdagangan sebagai  urutan kedua dalam pemberian sanksi (second order).

Teknik ini digunakan juga oleh NATO di Serbia dengan menghancurkan jembatan Danube dan 50 % jaring  rute KA  di Danube, hasilnya hampir 70 % kenaikan tajam pengangguran di Serbia. Kelima, gunakan dan perkuat kelompok atau golongan ketiga di negeri sasaran sebagai kekuatan perlawanan  pemerintah pusat.

Strategi ini merupakan gabungan antara sanksi ekonomi, bantuan ekonomi dan bantuan militer kepada kebisaan  golongan ketiga dalam suatu konflik antar mereka,hasilnya paralel akan menurunkan secara tajam kapabilitas (Kapabilitas beda dengan abilitas, periksa Henningsen, et all, halaman tentang Working Group 2), militer setempat. Penjelasan konsep strategi beserta dampaknya lebih dalam dan rinci akan menunjukkan bahwa sampai dengan tingkat effek kedua dan mekanisme sasaran yang diharapkan akan tampil. Hasilnya cukup mengerikan  dilihat dari manfaat dan biaya sebagai konsekuensi kehilangan manfaatnya bagi yang menjadi sasaran (Foster, 2003, hal. 57).

5. Kesimpulan

Meskipun baru  dua elemen kekuatan nasional yang ditampilkan, suatu pelajaran bagus buat Republik ini, betapa kekuatan komplementer ekonomi dan militer saja sudah mampu memporakporandakan aktor lainnya, tentu saja berasumsi bahwa sudah dimilikinya kepemimpinan strategik.

6. Penutup

Demikian kajian ini dibuat sebagai bahan masukan.

Posted in Kajian 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

m4s0n501