Perananan Kapten Markadi dalam Revolusi Indonesia di Bali dan Jawa Timur

Oleh:

A.A. Bagus Wirawan*

                                                                                            

Pengantar

Pepatah kuno yang tetap aktual jika disimak bahkan tetap benar dan bermakna jika direnungkan adalah “manusia mati meninggalkan nama”. Artinya manusia tidak hanya terlibat dengan waktunya tetapi juga dengan waktu yang melewati dirinya. Dimensi waktu yang melewati dirinya itulah sesungguhnya yang menyebabkan arti hidupnya masih dinilai, jauh setelah tiada di dunia fana ini. Semakin keras tirani waktu melekat pada diri aktor maka semakin jauh dirinya mengalami transformasi. Bagaimana dengan sosok Kapten Markadi pada periode perjuangan revolusi dalam sejarah Indonesia ?

Mengangkat sosok Kapten Markadi berarti mengangkat sejarah wong cilik di bidang militer lawan dari sejarah orang-orang besar dalam historiografi. Kiprah perjuangannya meliputi daerah-daerah lautan dan darat di Bali propinsi Sunda Kecil dan Surabaya, Malang, Banyuwangi propinsi Jawa Timur. Dia bertempur dan juga pendukung diplomasi yang merupakan proses dialektika revolusi Indonesia.

Pola hidupnya adalah satu contoh dari mata rantai proses dialektika antara ikut berperang di daerah dan ikut mendukung perjuangan diplomasi RI di tingkat pusat. Kiprah seorang tentara angkatan laut yang hanya berpangkat Kapten mampu mengajak teman-temannya membangun sebuah pasukan tempur yaitu “Pasukan M” atau pasukan Markadi”. Sebuah pasukan TRI Laut di bawah pimpinan Kapten Markadi  yang ikut bertempur bersama-sama MBU DPRI Sunda Kecil di bawah pimpinan Kolonel I Gusti Ngurah Rai di Bali pada tahun 1946. Kemudian melanjutkan perjuangannya di Jawa Timur mengawal Republik Indonesia dalam berunding diplomasi dan berperang pada Agresi Militer Belanda yang pertama di Malang Jawa Timur pada tahun 1947 dan Agresi Militer II tahun 1948.

Visi serta penilaian yang diberikan kepadanya, baik oleh lembaga resmi maupun oleh kesadaran sejarah yang sedang bertumbuh adalah pentulan dari kecenderungan sosial kultural politik saat ini. Penghadapan antara hidup perjuangan Kapten Markadi  yang meliputi keberhasilan dan kegagalannya dalam mendukung dialektika revolusi Indonesia dengan penilaian yang diletakkan pada dirinya itulah sebagian dari dinamika sejarah Indonesia dapat ditangkap. Oleh karena itu akan dibahas dua kiprahnya dan keterlibatannya di dua daerah perjuangan yaitu di MBU DPRI Sunda Kecil yang melancarkan bertempuran di Bali dan di Malang, Banyuwangi dan kota lainnya di Jawa Timur. Setelah di Jawa, kiprah perjuangannya mengikuti dialektika revolusi Indonesia yaitu selain berperang juga mendukung perjuangan diplomasi yang dilancarkan oleh pemerintah RI di Yogyakarta.

Kiprah Kapten Markadi di Bali, Sunda Kecil

Operasi lintas laut Banyuwangi-Bali dimulai pada minggu pertama bulan April 1946. Diawali oleh pendaratan rombongan pertama yaitu rombongan Waroka di Celukan Bawang pada 4 April 1946. Sempat terjadi kontak senjata dengan tentara NICA (Belanda). Namun karena kekuatan tentara NICA lebih kuat dan lengkap persenjataannya maka rombongan Waroka kembali ke Banyuwangi.

Rombongan kedua adalah rombongan I Gst Ngurah Rai mendarat di Yeh Kuning 5 April 1946. Rombongan kemudian melanjutkan perjalanannya ke daerah basis Republik di Munduk Malang, tempat markas besar (MB) daerah Tabanan di bawah pimpinan Gusti Wayan Debes, diadakan pertemuan para pimpinan organisasi perjuangan.  Pertemuan Munduk Malang pada tanggal 14 April 1946, memutuskan pembentukan wadah organisasi perjuangan yang dinamakan Dewan Perjuangan Rakyat Indonesia (DPRI) Sunda Kecil seperti yang sudah digariskan oleh pemerintah pusat RI di Yogyakarta Maret 1946. DPRI Sunda Kecil adalah wadah organisasi-organisasi perjuangan yang berfusi yaitu Resimen TRI Sunda kecil, organisasi tentara dengan organisasi sipil pemuda, PRI dan Pesindo. Mereka membentuk pusat komando untuk propinsi Sunda Kecil  yaitu Markas Besar Umum (MBU) DPRI Sunda Kecil di bawah pimpinan Letkol I Gusti Ngurah Rai, komandan TRI Resimen Sunda Kecil. Wakilnya adalah Made Widjakusuma dari PRI.

MBU membawahi Markas Besar (MB) untuk setiap daerah swapraja. Tugas MB adalah: menginsyafkan rakyat, mengajak pemuda revolusioner, membersihkan daerah dari kaki tangan dan mata-mata NICA, mengusahakan persediaan logistik, melatih petugas palang merah. Inti dan induk pasukan bersenjata dalam sentral komando MBU DPRI Sunda Kecil pada waktu itu berjumlah 800 orang atau satu batalyon.

Rombongan ketiga adalah rombongan Markadi, seorang Kapten angkatan laut. Rombongan Markadi kemudian lebih dikenal dengan nama pasukan M sebanyak 138 anggota pasukan diberangkatkan dari pelabuhan Banyuwangi pada 4 April 1946. Hampir sampai ke tempat pendaratan yang dituju di Candi Kusuma perahu yang ditumpangi Kapten Markadi bertemu dengan dua motorboat Belanda yang sedang patroli, diketahui bahwa penumpangnya adalah tentara republik. Terjadi kontak senjata selama 15 menit, mengakibatkan Sumeh Dartono tertembak dan jatuh ke laut, dan seorang anggota lainnya Sawali luka-luka. Di pihak Belanda seorang juru mudi motorboat tertembak mati. Pada saat kontak senjata, salah seorang anggota pasukan berhasil melemparkan granat tangan ke dalam salah satu motorboat Belanda yang mengakibatkan kebakaran kapal dan segera mundur ke Gilimanuk. Satu motorboat patroli Belanda lainnya juga mundur sambil melepaskan tembakan mengenai perahu yang ditumpangi Kapten Markadi hingga bocor. Demi pertimbangan keselamatan, rombongan kembali mendarat di Sukowidi (Kedaulatan Rakjat, 17-04-1946).

Penyebrangan kedua diberangkatkan pada 5 April 1946 ke tujuan pendaratan semula yaitu di Penginuman, Klatakan, Melaya dan Candi Kusuma. Kemudian menuju titik konsolidasi di desa Ngepeh. Mereka bergabung dengan 30 orang anggota pasukan yang dipimpin Muhadji dan Manggara Simamora yang telah mendarat lebih dulu. Dari Desa Ngepeh, direncanakan untuk menyerang pos Belanda terdekat di Negara pada 9 April, namun gagal.  Dilanjutkan dengan cegatan terhadap patroli tentara Belanda di Candi Kusuma pada 12 April 1946. Seorang anggota pasukan-M, terluka dan ditangkap Belanda. Atas usul Letnan  Gusti Ngurah Dwinda, pejuang dari Jembrana, pasukan M dipindahkan dari posnya di Desa Ngepeh ke Desa Gelar.

Di Desa Gelar, Kapten Markadi mengadakan konsolidasi dan reorganisasi pasukannya dengan pemuda pejuang di daerah Jembrana. Hasilnya adalah terbentuknya MB DPRI Sunda Kecil. Ketuanya adalah Ida Bagus Dosther dan wakilnya adalah Kapten Markadi. Sejak itu, desa Gelar  diberi nama julukan “Lembah Merdeka”, karena pada sebuah lembah di desa itu bendera Merah Putih selalu berkibar.

Dari Gelar pasukan-M berpindah ke Pulukan, terus ke Desa Munduk Belatung. Dari basisnya di Munduk Belatung, Kapten Markadi mengirimkan laporan ke Jawa bahwa rombongannya telah sampai di daerah basis. Oleh karena itu supaya segera mengirimkan bantuan senjata ke Bali. Pada akhir Mei 1946, Letkol Ngurah Rai dan Kapten Markadi sepakat bahwa Pasukan-M bergabung dengan pasukan Letkol Ngurah Rai di bawah komando TKR Sunda Kecil. Untuk mengamankan bantuan yang datang dari Jawa, mereka memutuskan untuk mengadakan gerakan-gerakan operasi gerilya ke arah timur. Taktik gerilya ke arah timur ditempuh agar perhatian tentara Belanda tertuju di timur sehingga kawasan barat aman bagi pendaratan pasukan Republik. Namun, pihak Belanda mengetahui taktik gerilya ini dan mereka tetap memperkuat pertahanannya di kawasan barat.

Dua bulan setelah terbentuknya Markas Satu Komando (MBO DPRI Sunda Kecil) jumlah personil pasukan Republik bertambah banyak. Semula 800 personil, kemudian diperkirakan menjadi sebanyak 1500 personil, laki dan perempuan. Seluruh senjata yang ada dikumpulkan untuk menciptakan satu kesatuan tempur bersenjata lengkap. Ditambah pula dengan datangnya bantuan senjata dan personil dari Markas Gabungan Gerakan Sunda Kecil (MGGSK) di Malang, Jawa Timur.

Bantuan senjata dan personil dari MGGSK baru terealisasikan pada pendaratan pasukannya di pantai Penginuman, Klatakan dan Batukarang di sebelah selatan Gilimanuk pada 3 Juli 1946. Namun ketika itu, pasukan induk DPRI Sunda Kecil di bawah pimpinan Letkol Ngurah Rai sedang melakukan perjalanan gerilya (longmarch) ke lambung Gunung Agung selama hampir dua bulan lamanya (Juni-Juli).

Bantuan pasukan MGGSK pada operasinya di Jembrana selama lebih dari dua minggu mengalami kegagalan total karena tidak tahu medan dan tidak mampu menghadapi gempuran tentara NICA Belanda.

Pasukan-M dan komandannya Kapten Markadi ikut dalam perjalanan panjang bergerilya (longmarch) dari Gunung Batukaru ke Gunung Agung. Namun sampai di daerah Bangli jumlah personil dikurangi untuk menuju ke arah timur. Pemuda tanpa senjata disuruh kembali ke daerah masing-masing termasuk pimpinannya yaitu Gede Ratep dan Made Widjakusuma pada 15 Juni 1946. Kini pasukan induk dengan kekuatan 400 personil yang sebagian besar bersenjata api dapat bergerak lebih gesit untuk melanjutkan perjalanannya menuju daerah Karangasem. Jumlah inipun semakin berkurang semakin ke timur karena medan semakin berat. Menurut perkiraan dari sumber Belanda yuang menyatakan bahwa gerombolan atau induk pasukan Letkol Ngurah Rai dan Kapten Markadi berjumlah 200 orang.

Dalam perjalanan panjang itu pertempuran demi pertempuran yang dilancarkan induk pasukan melawan tentara Belanda berlangsung terus seperti Sangkankuasa, Pesagi hingga Tanah Aron di lambung Gunung Agung. Pasukan-M di bawah pimpinan Kapten Markadi tetap ikut serta. Kondisi induk pasukan semakin sulit baik dari logistik maupun amunisi yang semakin menipis. Diputuskan untuk kembali ke barat dari pertahanannya di Gunung Agung.

Ketika sampai di Munduk Pengorengan, Buleleng, Pak Rai memanggil komandan-komandan pasukan untuk menyusun taktik strategi selanjutnya. Rapat di Munduk Pengorengan pada 23 Juli 1946 disepakati untuk memecah pasukan menjadi grup kecil-kecil supaya lebih mudah bergerak. Hal ini dilaksanakan agar keselamatan pemuda pejuang seluruhannya, keselamatan rakyat dan kelanjutan perjuangan. Perpisahaan pun dari komandan-komandan pasukan untuk kembali ke daerah-daerah asalnya dilaksanakan pada tanggal 24 Juli 1946. Pasukan Buleleng dan Bangli tetap tinggal di Munduk Pengorengan karena memang daerah asalnya. Pasukan Badung dan Tabanan kembali ke daerah asalnya.Pasukan-M, Pasukan TRI Laut pimpinan Kapten Markadi kembali ke Jawa Timur melalui desa Kempinis. Dari Kempinis, pasukan-M dan pimpinannya Kapten Markadi berusaha untuk menyebrang kembali ke Jawa Timur.

Kiprah Mayor Markadi di Jawa Timur

Kapten Markadi yang kembali dari Bali pada bulan Agustus 1946 langsung diberikan wewenang untuk memegang kendali kepemimpinan pasukan. Pangkatnya dinaikkan dari Kapten Markadi  menjadi Mayor Komandan TLRI Kesatuan VII.

Panglima Besar Jenderal Sudirman melalui nota Panglima Besar sempat menjelaskan bahwa kemungkinan adanya serangan militer Belanda secara besar-besaran. Oleh karena itu sejumlah komandan tempur di sejumlah divisi diminta merapat ke Markas Besar Umum Yogyakarta. Tujuannya ialah untuk mengambil langkah antisipasi Mayor Markadi yang saat itu diundang untuk menghadiri rapat para komandan batalion. Dalam arahannya, Jenderal Sudirman meminta seluruh TNI bersiaga mewaspadai gempuran pasukan Belanda. Ternyata menjelang fajar sejumlah kapal perang Belanda terlihat sudah bersiaga di Selat Bali. Mereka memuntahkan tembakan artileri dan senjata berat dengan gencar ke arah pos-pos pasukan-M terutama di Sukowidi. Serangan ini menjadi penanda dimulainya Agresi Militer Belanda pada tanggal 20 Juli 1947.

Mayor Markadi, komandan TLRI Kesatuan VII sekaligus menjabat sebagai komandan sektor pertempuran daerah lereng Gunung Kawi sebelah timur dan utara hingga desa-desa Gendogo, Precet dan Maduarjo.

Pelaksanaan perjanjian Renville pada pertengahan tahun 1948 diadakan gencatan senjata antara Indonesia dan Belanda dan ditetapkan garis demokrasi Pasukan M/TLRI Kesatuan VII di bawah komandan Mayor Markadi diberi tugas memegang Komando Sektor Perkebunan Kawi Selatan.

Ketika meletus pemberontakan PKI yang dimulai di Madiun pada 18 September 1948 oleh pemerintah RI melakukan penumpasan. Mayor Markadi ditugaskan untuk memimpin komando gabungan angkatan  perang  yang membawahi pasukan-pasukan angkatan darat  dan angkatan laut untuk menumpas PKI dan ormas-ormasnya di daerah Kawedanan Wlingi, Malang Selatan dan Blitar Selatan.

Hasil rekontruksi dan rasionalisasi (Reka) pemerintah RI adalah pasukan-M/TLRI kesatuan VII dialihkan dari angkatan laut ke angkatan darat menjadi batalyon Expeditie Troep Sunda Kecil (ETSK) Korps Reserve Umum (KRU) X Brigade XVI.Menghadapi Agresi Militer Belanda yang kedua 19 Desember 1948, Mayor Markadi senantiasa memimpin pasukan untuk melakukan taktik gerilya yang tidak pernah henti hingga perjuangan diplomasi mencapai puncaknya.Yaitu ketika digelar Konferensi Meja Bundar (KMB) pada bulan Agustus 1949.

Puncak proses dialektika revolusi Indonesia ialah penyerahan dan pengakuan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat pada tanggal 27 Desember 1949. Setelah itu dilakukan rekontruksi TNI dalam rangka konsolidasi. Hasil rekonstruksi TNI adalah pasukan-M/ETSK.KRU X Brigade XVI menjadi Kompi D 28 TNI DJ di Jawa Timur. Selanjutnya menjadi kompi 49. Divisi I yang berkedudukan di Paiton, Jawa Timur.

Penutup

Dua aspek yang bisa dijadikan ciri perjuangan seorang sosok Markadi, seorang tokoh militer dan juga mendukung perjuangan diplomasi pada periode revolusi Indonesia. Perang dan diplomasi adalah proses dialektika yang menjadi ciri dan wajah revolusi Indonesia selama periode perjuangan revolusi (1945-1949).

Kedua aspek yang dianut oleh Mayor Markadi membuat dia berbeda dengan pejuang revolusi kemerdekaan Letkol Ngurah Rai di Bali, Sunda Kecil yang menganut perjuangan berperang sampai cita-citanya tercapai. Ketika itu Kapten Markadi ikut berperang di Bali pada tahun 1946. Namun ketika dia diperintahkan untuk kembali ke Jawa Timur hingga menjadi Mayor Markadi maka wajah perjuangannya mempertahankan kemerdekaan dan meraih kedaulatan negara antara ikut berperang dan mendukung diplomasi (1946-1949).

Jadi perjuangan Mayor Markadi seperti juga wajah revolusi Indonesia. Perjuangannya melintas batas daerah propinsi yaitu Sunda kecil (1946) dan di Jawa Timur (1946-1949). Dia terlibat perang menghadapi Agresi Militer I (1947) dan Agresi Militer II (1948). Dia juga tunduk pada kebijakan tingkat negara yaitu perundingan dan diplomasi antara Indonesia dan Belanda di bawah pengawasan lembaga Internasional PBB. Kulminasinya adalah diselenggarakannya Konferensi Meja Bundar (KMB) yang mengakhiri sengketa. Selanjutnya kedaulatan diserahkan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS), yaitu bentuk pengelolaan negara dengan model federalisme Indonesia lawan model federalisme yang dikonsepkan oleh H.J. Van Mook.

Antara RI sebagai pengemban kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 dan 27 Desember 1949, keduanya berfusi. Fusi yang terjadi adalah akibat gerakan unitarisme (kesatuan) yang muncul di daerah-daerah dan di negara-negara bagian. Respon pusat adalah pernyataan Sukarno yang memberlakukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di seluruh tanah air Indonesia pada 15 Agustus 1950.

DAFTAR PUSTAKA

Hardjowiganda, R.dkk., 1982, Operasi Lintas Laut Banyuwangi Bali. Jakarta: Pusjarah ABRI.

Jelantik SP, I.B. dan Arya Suarja, 2007. Ida Bagus Gde Dosther 80 Tahun. Denpasar: Manawa Bali.

Kahin, G. McTuruan, 1952, Nationalism and Revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell Univ Press.

Kedaulatan Rakjat, Th. I, No. 176, Rebo Wage 17-04-’46, Yogyakarta.

Pendit, Nyoman S., 1979, Bali Berjuang. Jakarta: Gunung Agung.

Pindha, I Gst Ngurah, 1990, Gempilan Perjuangan Phisik Pasukan Induk Ngurah Rai. Denpasar: Upada sastra.

Robinson, G., 2006.Sisi Gelap Pulau Dewata : Sejarah Kekerasan Politik di Bali.Yogyakarta: LKIS.

Santosa, Iwan & Wenri Wanhar, 2012, Pasukan-M : Menang tak Dibilang Gugur Tak Dikenang, Pertempuran Laut Pertama dalam Sejarah RI. Jakarta: REW.

Wedha, I Ketut, 1990, Studi Tentang Revolusi Fisik di Daerah Jembrana. Jembrana: TP.

Wirawan, A.A. Bagus, 2012, Pusaran Revolusi Indonesia di Sunda Kecil, 1945-1950. Denpasar: Udayana Univ. Press.


*Guru Besar Ilmu Sejarah di Jurusan Sejarah Fakultas Sastra Universitas Udayana Denpasar.

Posted in Kajian 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>