KOMANDO WILAYAH LAUT SEBAGAI JAWABAN TERHADAP PERKEMBANGAN LINGKUNGAN STRATEGIS MASA KINI DAN MASA DEPAN

1. Latar Belakang 

Telah terbukti dari pengalaman sejarah dan perang  negara-negara bahwa  benar adanya diktum yang mengatakan “geography  is the bone of strategy”. Posisi geografi dan bentuk wilayah NKRI menuntut adanya Strategi Pertahanan yang mampu menjawab tujuan Kepentingan Nasional Indonesia masa kini.

Secara lebih tegas Strategi Pertahanan Indonesia hendaknya lebih bertumpu pada Strategi Maritim. Sedangkan operasionalisasinya, akan diemban oleh seluruh kekuatan maritim di mana Armada AngkatanLautRIakan menjadi tulang punggung kekuatan.  Implementasi Strategi Maritim tersebut dengan membagi wilayah pertahanan Armada menjadi  3( tiga) Komando Wilayah (Kowilla) adalah  bagian dari upaya  menghadapi lingkungan strategis yang berkembang saat ini. Karena itu dapat dikatakan pembagian wilayah pertahanan tersebut di atas didasarkan pada pertimbangan faktor  statis dan dinamis.

2. Faktor Statis

  1. Bentangan wilayah NKRI sangat luas, tidak kurang dari  4.000 mil jauhnya  dari Sabang  sampai Merauke, jarak ini hampir sama  dengan jarak dari  San Fransisco ke NewYork City di Amerika Serikat. Luas wilayah sangat mempengaruhi kemampuan pertahanan suatu negara.
  2. Banyaknya “pintu“ masuk ke dalam wilayah NKRI “lewat laut“ lebih berpotensi menimbulkan gangguan  keamanan  dan kerawanan daripada lewat darat. Lewat pintu laut ini dapat segera menyebar ke suatu wilayah yang luas apabila tidak  segera terdeteksi. Contoh kasus penyelundupan senjata api (perdagangan gelap senpi) akan lebih mudah dilakukan lewat laut.Adaperbedaan yang mencolok antara pintu-pintu ini di wilayah Barat dibanding wilayah Timur. Di Barat lebih banyak berbatasan dengan negara lain sedangkan di Timur lebih sedikit.
  3. Adanya 3 (tiga) buah ALKI, yang masing-masing mempunyai karakteristik berbeda. Pada hakekatnya ALKI banyak digunakan oleh kapal-kapal perang negara asing. Battle Group Amerika misalnya akan cenderung melewati ALKI  Tengah daripada ALKI Barat atau Timur. Sebaliknya kapal-kapal perangAustraliayang akan menuju ke Utara pasti melewati ALKI Tengah atau Timur.
  4. Banyaknya kegiatan ekonomi di ALKI Barat dan Tengah, berupa  kegiatan  eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas bumi lepas pantai yang umumnya dilakukan oleh perusahaan asing berupa survei perminyakan dan gas, pengeboran minyak dan gas, serta pendirian  pulau-pulau buatan (platform, rig, barge, FPSO dan sebagainya). Sebagai contoh di Selat Sunda dan perairan Natuna ALKI I Barat dan sepanjang ALKI II, khususnya pantai Timur Kalimantan dan Selat Sunda, telah dipenuhi oleh platform, rig baik yang produktif maupun tidak. Tersumbatnya ALKI oleh kegiatan perminyakan dan gas ini akan menimbulkkan masalah besar bagiIndonesiadi kemudian hari. Semua kegiatan ekonomi vital ini membutuhkan pengamanan yang serius, mengingat devisa negara dari sektor ini sangat besar.
  5. Karakteristik perairan di ketiga wilayah laut ini juga sangat berbeda. Wilayah Barat relatif dangkal, wilayah Tengah  agak lebih dalam, sedangkan wilayah Timur ditandai dengan laut yang dalam. Oleh karena itu operasi–operasi kapal selam asing  khususnya yang berukuran besar dan bertenaga nuklir cenderung  dapat dilakukan di wilayah laut Tengah dan Timur.
  6. Faktor kepadatan penduduk serta tingkat hidup khususnya yang mendiami pulau-pulau di ketiga wilayah ini tidak sama, pada gilirannya akan membawa pengaruh pada upaya-upaya  pertahanan maritim.

3. Faktor Dinamis 

Faktor dinamis yang dimaksud adalah pengaruh lingkungan strategis baik dalam maupun luar negeri.

Ancaman potensial bagi negara kita saat ini, diakui bukanlah ancaman simetrik berupa serangan frontal negara lain, melainkan yang kita hadapi adalah ancaman asimetrik dalam berbagai bentuk dan aplikasinya. Kita menghadapi apa yang disebut comprehensive security. Karena itu tugas Angkatan Laut sebagai kekuatan militer sekaligus berfungsi constabulary, di masa  depan  akan semakin  berat. Ajakan Amerika secara politis ikut serta dalam PSI, rupa-rupanya membawa dilema bagi pemerintah RI, karena berbagai alasan politis. Namun terlepas dari faktor politik, secara operasional dan taktik di mandala operasi, kegiatan ilegal seperti yang dimaksud dalam ketentuan-ketentuan PSI harus dihadapi oleh unsur-unsur Angkatan Laut. Dikaitkan dengan faktor statis di atas, maka perairanIndonesia sangat rawan terhadap pengangkutan dengan kapal, perahu motor, atau sarana angkut lain, terhadap barang-barang yang berkaitan dengan penyebaran senjata pemusnah masal (WMD) beserta bahan-bahan yang terkait dengannya. Jadi faktor-faktor dinamis dapat diidentifikasi sebagai berikut:

  1. Perkembangan lingkungan strategis terutama ancaman keamanan bersifat asimetrik. Intensitas dan jenis ancaman model ini berbeda antara wilayah laut yang satu dengan lainnya. Contohnya, kegiatan ilegal di laut berupa penyelundupan, perompakan di laut, pembajakan kecenderungannya banyak terjadi di wilayah laut Barat dan relatif kecil di wilayah Timur.
  2. Faktor penting lain adalah keberadaan Pangkalan Angkatan Laut. Pangkalan adalah kepanjangan tangan Armada. Karena itu pangkalan haruslah manunggal dengan Armada. Dengan kata lain apabila pangkalan manunggal dengan Armada, barulah dia berfungsi sebagai alat pertahanan. Pangkalan tidak mempunyai arti apa-apa tanpa kehadiran armada di dalamnya. Pangkalan dapat menjadikan unsur-unsur armada yaitu kapal, pesawat terbang  dan kesatuan Marinir  lebih efektif  melaksanakan operasinya. Selain dari itu pangkalan mempunyai arti Logistik dan arti Strategik. Dalam arti logistik pangkalan berfungsi sebagai titik dukungan pembekalan, perbaikan dan perlindungan terhadap armada, sedangkan dalam arti strategik pangkalan berfungsi menjamin agar kehadiran armada di sepanjang garis perhubungan laut yang vital terpelihara secara terus menerus. Pengendalian laut dapat tercapai apabila pangkalan strategik dapat memberikan dukungan penuh kepada armada Angkatan Laut.
  3. Pembangunan atau pengembangan pangkalan Angkatan Laut dewasa ini memang sudah diselaraskan dengan posisi geografi negara RI. Dan juga searah dengan gerak armada kapal-kapal. Karena bagi armada posisi geografi pangkalan sangat dipengaruhi oleh faktor jarak seberapa jauh letak pangkalan terhadap pantai negara lain, akan membawa dampak politik dan strategi. Sebagai contoh; pembangunan Pangkalan Utama Angkatan Laut di Kupang dan Merauke, akan membawa dampak politis bagiAustralia. Posisi suatu pangkalan akan menentukan berapa lama suatu gugus tempur laut akan mencapai daerah operasi. Apabila pangkalan letaknya jauh dari daerah operasi maka jumlah kapal perang hendaknya dilipatgandakan. Pilihan ini tentunya sulit dilaksanakan dengan kondisi negara RI saat ini.
  4. Populasi di sekitar pangkalan kadang-kadang merupakan sumber informasi  bagi pihak lawan. Di wilayah TimurIndonesia, populasi relatif lebih homogen dibanding dengan wilayah Barat misalnya. Populasi yang homogen lebih menguntungkan dari pada populasi yang heterogen.

Konfigurasi wilayah laut  ditinjau dari segi  luas, posisi  dan jarak antar pulau maka  wilayah Timur lebih luas dan jaraknya lebih jauh satu sama lain, dengan sendirinya  konsep operasi dan taktik armada di wilayah itu akan berbeda dengan wilayah laut yang lain. 

4. Pengerahan dan Penyebaran Kekuatan

Berdasarkan faktor-faktor yang telah diuraikan di atas, jelas terlihat perbedaan antara ketiga wilayah laut tersebut yang dengan sendirinya akan  berbeda pula dalam konsep operasi dan taktik unsur-unsur armada Angkatan Laut, termasuk pula jenis dan kemampuan alat utama (kapal) yang akan  diproyeksikan ke wilayah-wilayah komando laut tersebut. Misalnya di wilayah Timur lebih dibutuhkan kapal-kapal tipe Fregat yang memiliki daya jelajah yang cukup jauh, memiliki sensor yang dapat diandalkan untuk mendeteksi kapal selam. Demikian pula dibutuhkan kapal-kapal logistik (oiler) untuk dukungan BBM, serta kapal-kapal pendarat (LST).  Kapal–kapal patroli berukuran kecil (FPB) tidak efektif untuk wilayah ini. Sedangkan untuk wilayah Barat dapat merupakan gabungan dari kapal-kapal besar dan kecil. Pesawat udara patroli maritim amat dibutuhkan di semua wilayah laut. Demikian beberapa contoh penyebaran kekuatan Angkatan Laut di ketiga wilayah laut akan berbeda-beda.

5. Kesimpulan

Letak geografi dan kondisi wilayah NKRI menjadi dasar pertimbangan utama dalam menyusun konsep strategi maritim (kalau mau menyebut strategi Angkatan Laut) serta konsep operasionalnya. Dari fakta statis dan dinamis di atas, akan ikut menjadi pertimbangan pelengkap yaitu pengaruh lingkungan strategis baik dalam dan luar negeri, ancaman yang dihadapi, serta faktor-faktor lain. Pembagian wilayah nasional menjadi 3 (tiga) komando wilayah laut akan lebih efektif dalam menjawab tantangan masa kini serta perkembangan lingkungan strategis yang berkembang.

6. Penutup

Demikian kajian ini dibuat sebagai bahan masukan.

Posted in Kajian 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

p5rn7vb