Kapten Markadi, Pasukan M dengan Tugas Mempertahankan Kemerdekaan: Menang Tak Dibilang, Gugur Tak Dikenang

Oleh: Dr. Anhar Gongong[1]

Pendahuluan: Tugas Mempertahankan Kemerdekaan dan “Kepahlawanan”

Ketika Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta (Soekarno-Hatta) selesai mengumumkan (pernyataan) proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia pada 17 Agustus 1945 dan keesokan harinya, 18 Agustus 1945 – di depan sidang PPKI – para pemimpin kita, bangsa Indonesia yang merdeka, menegakkan sebuah negara yang berbentuk Republik, Republik Indonesia; dengan Presiden dan Wakil Presidennya, Ir. Soekarno dan Drs. Muhammad Hatta. Namun, bangsa-negara yang baru merdeka ini justru menghadapi langkah ketidakadilan berlanjut dari bangsa-negara kolonialis Belanda yang telah menjajah bangsa dan tanah air Indonesia selama berpuluh-puluh tahun – prosesnya dimulai sejak bergiatnya VOC di wilayah-wilayah kerajaan tradisional di Nusantara, sejak abad 17 dan berakhir setelah pendudukan Jepang – pemerintah kerjaan Belanda menyerah kepada Jepang dan van Moek lari ke Australia – pada tahun 1942. Ketidakadilan yang dihadapi itu karena pemerintah kolonial Belanda menolak mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia yang telah diproklamasikan pada 17 Agustus 1945 dan juga menolak mengakui kedaulatan Negara Kesatuan RepubliK Indonesia (NKRI) yang dibentuk-tegakkan pada 18 Agustus 1945.

Maaf untuk membaca full akses konten dalam format post artikel silahkan terlebih dahulu mendaftar sebagai anggota milist FKPM.

Posted in Kajian 2013.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *