DOKTRIN: PERSPEKTIF UMUM

           Oleh: Budiman Djoko Said

Umum 

Siapapun yang pernah belajar di Lembaga pendidikan TNI, memahami bahwa doktrin adalah suatu yang diyakini kebenarannya, berdasarkan sejarah,tidak pernah berubah dan seterusnya. Pengertian ini memang tidak bertentangan sama sekali dengan literatur dari Barat,namun kekurangan pengayakan pengertian yang diperoleh dari definisi itu bisa saja dapat menyebabkan kurang sempurnanya doktrin-doktrin yang akan diciptakan dimasa mendatang.

Bila dikembangkan dari difinisi tersebut—misal: pengertian  diyakini kebenarannya, akan timbul pertanyaan-pertanyaan seperti; samakah dengan dogma? Bersifat tetap, atau petunjuk atau instruktif–berarti tidak ada keluwesan sama sekali untuk dilaksanakan dilapangan? Padahal situasi pertempuran dimanapun seperti kabut (the fog of war). Doktrin bisa mendikte Komandan-komandannya, tapi alam dan musuh tidak bisa didikte.

Apakah revolusi urusan militer (RMA),revolusi urusan security (RScA) bahkan revolusi urusan strategy (RstA) tidak cukup peka menciptakan perubahan doktrin atau bahkan menghapus doktrin lama? Banyak cerita saat perang dunia I&II dan sesudahnya, mendemonstrasikan bahwa ada perubahan besar tentang pelaksanaan doktrin, misalnya doktrin kavaleri udara era perangVietnam, perubahan doktrin komuniti kapal selam. Di-tingkat strategi, apakah doktrin relatif sebagai pelengkap atau merupakan penjelasan strategi tersebut? Kalau strategi sudah demikian jelasnya apakah masih memerlukan doktrin.

Memahami Doktrin 

Apabila Kebijakan yang dikeluarkan Panglima-panglima merujuk kepada Strategi Militer Nasional sudah demikian jelasnya, masihkah diperlukan doktrin-doktrin untuk meyakinkan terlaksananya Kebijakan-kebijakan ini? Teoritikal hirakhi dibawah Strategi Pertahanan Nasional adalah sub strategi Militer Nasional,kemudian diturunkan ke Kebijakan-kebijakan dibawahnya.Bila ada perubahan strategi militer nasional, tentunya akan menggoyang konsep Kebijakan Angkatan-Angkatan termasuk perubahan fokus terhadap parameter strategi militer nasional (shape,respond,prepare for tomorrow) serta persiapan dan pelatihan kekuatan yang disiapkan,bagaimana dengan nasib doktrin yang ada?

Mencermati kembali posisi hirarkhis manajemen nasional diawali dari Tujuan nasional  yang mendasar, diikuti Kepentingan Nasional dan dikuti dibawahnya dalam bentuk strategi-strategi DIME(diplomatik,informasional, militer dan ekonomi nasional) masih perlukah doktrin pada ruang strategik tersebut?Bila dianalogkan kedudukan manajemen nasional tersebut dalam format (berturut-turut)Kepentingan nasional-Obyektif National-Strategi Nasional-Kebijakan Nasional-dan Program-program Nasional, dimana ruang untuk mendudukkan doktrin?

Apakah doktrin diciptakan untuk mendukung tercapainya strategi—kebijakan atau program-program militer atau untuk kepentingan lain. Apakah kemunculan doktrin sebagai upaya agar militer dapat digunakan seefektif mungkin mendukung strategi militer nasional? Bagaimana dengan UU yang bertindak selaku pendorong penggunaan kekuatan militer, dikaitkan dengan strategi dan doktrin yang mungkin meliputnya? Pada tingkat taktis misalnya,bisakah prosedur taktis 2 group satuan tugas atau 2 unit boleh disebut doktrin, misal tindakan anti kapal selam (ASW action)oleh 2 atau lebih unsur kapal atas air anti kapal selam?

Bagaimana dengan petunjuk tempur, atau petunjuk teknis TNI maupun Angkatan yang berkenaan dengan tempur,dapatkah  disamakan dengan doktrin dengan mencermati kriteria yang ada . Apa sebenarnya yang bisa ditangkap dari penjelasan diatas? Doktrin merupakan keinginan untuk mengikat seluruh unsur yang terlibat,dalam bentuk kekohesifan agar jaminan “unity of effort” tercapai.Dua (2) tipikal kohesif yang diharapkan muncul, yakni struktural dan perilaku.Kohesif struktural diharapkan dapat dijamin dengan doktrin yang lebih bersifat kepercayaan dan pengaturan. Sedangkan kohesif perilaku diharapkan akan dijamin dengan doktrin yang mengatur tindakan (action).

Contoh terakhir kohesif perilaku adalah tindakan anti kapal selam(ASW action),anti serangan udara (AAW action),atau anti permukaan (AsuW action). Belajar,atau mendalami doktrin,tentu saja kita akan banyak menoleh ke Inggris.Asal muasal kemunculan doktrin adalah terbitnya “instruksi-perkelahian”(fighting instruction) bagi serdadu Inggris.Bahkan negara-negara besar manapun juga banyak belajar dari Inggris .Pengalaman Angkatan  Laut Inggris di era PD I &II, menunjukkan doktrin yang ditulis lebih banyak berorientasi pada doktrin Angkatan .Sedangkan doktrin-doktrin yang tercipta mulai dari doktrin tingkat taktis dan operasional bisa saja berujud doktrin yang tertulis,instruksi tempur bahkan instruksi lesan dari para Komandan dilapangan.

Doktrin Angkatan jauh lebih menonjol saat PD II.Namun era sesudah PD II dan awal perang dingin;kesadaran lebih mendayagunakan organisasi tugas tempur gabungan sudah jauh sangat menonjol—sehingga perilaku doktrin lebih berorientasi kepada operasi gabungan.

Apabila doktrin memang sangat besar utiliti-nya,bukankah banyak kasus-kasus konflik di-daerah di Republik ini,bersamaan dengan dibukanya klausul tentang OMSP (operasi militer selain perang )bagi TNI  yang memungkinkan diciptakan doktrin operasi militer dan OMSP. Bagi TNI, dimasa mendatang dengan masih “kecilnya peluang ancaman simetrik”, fokus kepada OMSP dengan doktrinnya barangkali akan lebih mengemuka. Bukankah tujuan mulia diciptakannya doktrin untuk mencapai dan memperbaiki “effektivitas” penggunaan kekuatan militer, dengan cara memadukan kepercayaan (kohesif struktural) dan tindakan (kohesif perilaku)di-lapangan nanti.

Sampai disini dapat disarikan berbagai fenomena doktrin yang akan menimbulkan isu-isu sejumlah definisi dan tentu saja karakteristik doktrin itu sendiri. Menyimak kekuatan otoritasnya juga akan menimbulkan isu-isu seperti—prinsip-prinsip saja atau prakteknya, dan atau sebagai pengarah/pegangan atau perintah, dan atau kaku sekali atau sangat fleksibel,dan atau struktural atau prosedural .Faktor lain bisa juga menimbulkan isu-isu yang cukup serius seperti waktu,tempat,jumlah atau struktur kekuatan,akan semakin menambah kesulitan ini semua.

Oleh karena itu tepatlah kalau mendefinisikan doktrin juga sulit—beberapa pakar lebih suka menyebut doktrin adalah sesuatu yang harus dipikirkan dan diajarkan.

Doktrin dan Kepentingannya 

Apapun juga perilaku, katagori dan kepentingan khusus terciptanya suatu doktrin, dipercayai semua itu diciptakan guna kepentingan bersama menghadapi ancaman. Namun ancaman yang mana? Ancaman simetrik jauh lebih mudah, sekurang-kurangnya mudah diketahui. Bagaimana dengan ancaman asimetrik? Konsep asimetrik—yang lemah menyerang yang kuat (from the weak against the strong). Lawan beroperasi dari lingkungan asimetrik dengan sistem senjata asimetrik dan informasi tentang mereka juga asimetrik, sulit bukan?

Sementara asumsi yang digunakan disini adalah doktrin yang dibicarakan adalah versus ancaman simetrik. Membahas doktrin akan lebih semakin jelas didahului dengan mencermati perilakunya. Perilaku ini akan muncul apabila sudah dapat didefinisikan. Pengertian doktrin perlu disamakan terlebih dahulu. Mencermati pengertian ini dari definisi JP (Joint Publication) baik itu standar NATO maupun USA.
____________________________________________________________

 —Doctrine : Fundamental principles by which the military forces or elements thereof guide their actions in support of natinal obyectives.It’s authoritative but requires judgments in applications.

[reff:Kamus Dephan AS, US J(oint)P(ublications), JP 1-02, “DoD Dictionary Of Military and Associated Terms”, 12 April 2001, diamandemen s/d 5 September 2003,halaman 165 atau (sama isinya) Kamus Pertahanan NATO,no.AAP-6/tahun 2004].

 ____________________________________________________________

Pengertian seperti ini—–untuk mendukung tujuan nasional jauh lebih penting. Pengertian diatas juga memberikan konotasi bahwa doktrin juga bertindak sebagai–—how to use the forces. Dari pengertian ini,sangat menekankan adanya kaitan kuat dengan tujuan nasional. Pertanyaan besarnya apakah negeri ini sudah mengatur dan mendefinisikan paradigma manajemen nasional yang diawali [berturut-turut] dari Tujuan nasional yang mendasar—strategi Keamanan nasional–strategi-strategi DIME–dan strategi nasional dibawahnya–barulah program program nasional yang mengacu kepada strategi dibawah strategi DIME tersebut?

Kalau belum, bagaimana memodelkan posisi doktrin yang tercipta, ditengah-tengah strategi nasional, kebijakan nasional dan program-program nasional dan UU? Sebagai prinsip dasar akan memberikan arahan bagaimana menggunakan kekuatan militer juga sangat penting. Dengan disisipkannya kalimat otoritatif, terkesan ada tekanan perintah yang harus diikuti namun tetap ada keluesan bagi Komandan komandan dilapangan dengan merujuk kata-kata “judgements in applications”.

Tanpa penjelasan perilaku doktrin dan apa maunya doktrin tentu saja akan menciptakan suatu keputusan yang “kaku” dilapangan, dan menimbulkan keragu-raguan dilapangan nantinya. Ada kriteria berdasarkan sejarah, dapat dipercaya dan lain-lain,sah-sah saja. Meskipun kata kata seperti itu bisa saja membingungkan. Bahwa sejarah ikut mendorong terciptanya doktrin memang betul,tetapi sejarah bisa saja terjadi karena “faktor keberuntungan“ saja, bagi yang diuntungkan. Tidak menolak sejarah burukpun,karena kekurang-beruntungan juga akan mampu mendorong terciptanya doktrin. Bahkan sebelum sejarah itu terjadi doktrin juga sudah diciptakan dalam rangka menyatukan persepsi, filosofi, tujuan, bahasa dan meneguhkan upaya (unity of effort).

Kesadaran penggunaan kekuatan militer untuk tujuan perang maupun bukan perang sudah tidak dibatasi lagi dilaksanakan oleh individual Angkatan. Doktrin untuk mendukung operasi gabungan, paduan, bilateral, maupun multilateral lebih banyak tercipta sekarang ini, dibandingkan doktrin-doktrin yang digunakan khusus masing-masing Angkatan dimanapun juga.

Kecenderungan ini menunjukkan operasi militer akan lebih effisien lagi bila dilakukan dalam bentuk gabungan,atau paduan, atau multilateral, atau multinasional, bahkan melibatkan kelompok sipil (Hint: Joint Civil-Affairs Operation, Joint Civil-Military Operation, Joint Military Operations, TNI baru mengembangkan yang terakhir sebagai Opsgab).

Bahkan katagori operasi militer tertutup-pun (overt) yang biasanya secara tradisional dilakukan oleh pasukan khusus salah satu Angkatan, sudah dilakukan dalam bentuk Komando gabungan Passus ( Joint SOF Comm ). Pernyataan terakhir ini cukup akomodatif memenuhi keinginan alam demokrasi, transparansi, dan diketahui publik—agar satuan militer bermain lebih terbuka bagi publik(overt)….dan lebih cantik.

Barangkali keterlibatan elit sipil dalam operasi militer langsung atau tidak langsung akan semakin menjadikan militer lebih populer. Meskipun semua ini bisa saja menimbulkan pertanyaan besar seperti: masih adakah tempat yang lapang bagi doktrin Angkatan  ? Keinginan untuk menyatukan tujuan, tentu saja akan cukup peka dipengaruhi revolusi urusan militer (RMA), dengan demikian doktrinpun sangat dimungkinkan bisa berubah karena mengikuti teknologi.

Tingkatan-Tingkatan Doktrin 

Berangkat dari kendala sekian banyaknya doktrin TNI yang akan diciptakan, ditambah dengan sulitnya menciptakan suatu doktrin, tentunya akan timbul banyak pertanyaan. Salah satunya adalah bagaimana membagi-bagi doktrin sesuai tingkat kepentingan dan kebutuhan baik Angkatan, maupun Gabungan/Paduan, strategik atau tidak, agar effisiensi produk doktrin yang diciptakan tercipta, meskipun Juklak Stratifikasi Doktrin dilingkungan TNI sudah ada.Dengan banyaknya definisi doktrin dan karakteristiknya menambah kesulitan menciptakan suatu doktrin yang effektif. Singkatnya ada kesulitan dengan isu-isu yang tercipta disebabkan doktrin. Bahkan membedakan antara standar operasi, rencana operasi, direktif,prosedur taktik&teknik,aturan pelibatan  ,bagi doktrin sendiri sudah begitu sulitnya. AS-pun juga mengalami ketidak efektifan doktrin yang sudah ada.

Meskipun konsep mengkatagorikan berbagai-bagai doktrin ini pernah ditulis oleh Perwira TNI dalam format pohon doktrin dan penjelasannya, barangkali ada baiknya diperkaya dengan konsep yang lain. Pendekatan dapat dilakukan dengan cara eselonisasi Komando,sebagai berikut:

Tingkatan terendah, yakni taktik, teknik dan prosedur (TTP) unsur tunggal. Contoh bagi Angkatan Laut adalah TTP kapal atas air,kapal selam,pesawat terbang dan Marinir.TTP ini dibuat agar aksi yang dilakukan menghadapi lawannya,diharapkan tidak terlalu banyak berpikir untuk memutuskan, keputusan dibuat otomatis—namun sangat effektif.Merujuk pada kriteria diatas,pada tingkatan ini TTP dapat disamakan dengan doktrin. Contoh:operasi kapal selam akan banyak dilakukan secara individual,sulit untuk membantah mengatakan TTP komuniti kapal selam bukan suatu doktrin.Pada tingkat ini,TTP akan lebih banyak dilakukan dengan harapan “reaksi cepat”, hampir mendekati “otomatis”. Manajemen tempur dan keputusannya  akan lebih banyak berbasis ”check-list”. Pada tingkatan  ini kepekaan doktrin terhadap RMA sangat tinggi.

Tingkatan berikut, adalah taktik Armada, Gugus Tugas. Doktrin akan mengarahkan satuan ini untuk beraksi dengan pilihan yang lebih luas bagi Komandan Komposit Peperangan (Composite Warfare Commander).Seperti pilihan-pilihan bentuk tabir, dukungan tembakan kapal, kecepatan tabir, manuvranya, intensi lawan/musuh yang bervarian, rencana pencarian, distribusi tembakan, kebijakan selama lintas laut, kebijakan anti permukaan dan semacam itu.  Harapannya dengan tim yang kuat, terlatih, kekuatan akan semakin besar dan peluang untuk mempertahankan hidup dan peluang untuk membantu unsur lain tetap hidup akan menjadi lebih besar juga—doktrin akan sangat membantu sekali.

Tingkatan lebih atas lagi, adalah tingkat kampanye dan seni operasi. Tingkatan ini mentransformasikan pemikiran strategi nasional dan strategi militer nasional kedalam konsepsi tindakan di-mandala tempur. Doktrin yang digunakan mulai tingkatan terbawah sampai ke-tingkat lebih atas seperti: kampanye dalam pengertian strategi—mengoptimalkan “means”ke-“ends”.

Tingkat tertinggi adalah Strategi dan Kebijakan nasional. Pada tingkat ini orientasinya lebih kepada memadukan “kepercayaan nasional”—atau membuat keseimbangan antara “means” dan “ends”. Unsur perilaku arahan atau petunjuk dalam doktrin di-tingkat ini sudah sangat berkurang. Pendekatan tingkat-tingkat seperti ini  menurut Pak Wayne P Hughes adalah eselonisasi Komando .Didekati dari effektivitas organisasi tempur yang dibangun, maka katagorisasi doktrin dapat dibagi dalam 4 katagori.

Pertama,doktrin gabungan ( bisa gabungan  atau bisa paduan–Joint Operations )dalam satu  negara.Berangkat dari definisi doktrin…fundamental principles that guide the employment of forces  of two or more services in coordinated action toward a common objectives. It’ll be promulgated by the Chairman of the Joint Chief’s of Staff , in coordination with the combatant commands,services, and Joint Staff  . Satu doktrin yang digunakan bagi 2 atau lebih Angkatan terkoordinasi.

Kedua,doktrin multi Angkatan (Multi service doctrines). Digunakan oleh Angkatan yang khusus meratifikasinya. Contoh:doktrin Darat-Laut(Land-Sea doctrine), berlaku hanya bagi Angkatan Darat dan Laut.

Ketiga,doktrin angkatan tunggal (Service doctrine).Tidak saja dalam pengertian matra, namun bisa juga dalam bentuk satgas,gugas,atau group.Diorientasikan kepada tugas yang spesifik yang hanya dapat dilakukan kekuatan atau satuan tertentu.

Keempat,gabungan antar negara (Combined operations), cukup jelas pengertiannya, digunakan bagi negara-negara yang meratifikasinya.

Kelima,doktrin fungsional.Pendekatan fungsional adalah berbasis pendekatan peperangan dasar, seperti peperangan amphibi, peperangan permukaan.Bisa juga diamati berdasarkan dukungannya terhadap tugas tempur seperti medik, logistik dan intelijen, semua ini bisa disebut doktrin.

Kesimpulan 

Dengan penjelasan-penjelasan diatas mudah-mudahan dapat dijadikan pengkayaan dan pencerahan tentang varian doktrin dilihat dari perspektif manapun juga. Doktrin resmi bisa saja tertulis atau bahkan tidak tertulis berdasarkan format tradisi satuan tersebut (informal). Doktrin bisa dipersepsikan darimanapun juga, tergantung kepentingannya. Secara umum dapat diterima bahwa doktrin adalah……..an accepted body of proffesional knowledge. Atribut utama suatu doktrin sebenarnya adalah kumpulan kumpulan prinsip, bukan suatu prosedur yang sangat spesifik sekali. Namun tetap memberikan bimbingan bagaimana menggunakan kekuatan militer, dan menetapkan suatu basis penggunaan yang rasional.

Doktrin sebaiknya mudah diakses,tepat waktu,up to-date,terdefinisi dengan jelas.Ketidakjelasan akan membuat para Komandan di-lapangan akan selalu ragu-ragu dan lebih celaka lagi tidak mempercayai.Para Perwira haruslah meyakini bahwa doktrin tersebut betul betul dihadapkan dengan ancaman yang nyata dengan segala kapabilitasnya, dan yang utama doktrin sudah harus terbukti dalam pertempuran atau konflik semacam itu.

Doktrin lebih merupakan kumpulan pengalaman Komandan dilapangan ditambah kearifan profesional serta intelektual yang mengkonfrontir pengalaman dilapangan untuk perbaikan. Barangkali kehadiran petunjuk dari hirarkhis yang lebih atas, seperti Kepentingan nasional sampai dengan strategi DIME(diplomatic,informasional,militer dan ekonomi nasional) dan akhirnya strategi militer nasional bagi TNI yang perlu dibangun terlebih dahulu. Tanpa keberadaan bangunan yang lebih atas, akan mempersulit untuk menentukan doktrin mana yang lebih diprioritaskan untuk diciptakan dan memenuhi harapan mengoptimalkan “unity of effort” setiap kekuatan yang terpilih untuk digunakan.

_____________________________________________________________

Catatan Kaki

1.”Lessons and Conclusions From the History of the Navy and  Military Doctrinal Development”,Dr James J Tritten,1995,Naval Doctrine Command,halaman 3,…… bahkan N(aval)W(arfare)P(ublication) [1],disebut-sebut sebagai ……….formal centralized written Navy Doctrine existed in the form of the Naval warfare Publication(NWP-1) atau  Strategic Concept of The US Navy.
2.”Doctrine and Fleet Tactics in the Royal Navy”, Dr James J Tritten, November 1994, Combined and Joint Doctrine Division, Naval  Doctrine Command, halaman 1,…..one cannot consider without Naval Doctrine in US Navy without first conducting an analysis of how Navy doctrine evolved in Great Britain,…assesment of doctrinal process in the Royal Navy and with potential lessons for us today.
3.Ibid, halaman 13,………..Laksamana Horatio Nelson, dengan seri kemenangan-kemenangannya memberikan insiprasi dan pembuktian bahwa doktrin-doktrin yang dikembangkan sangatlah effektif untuuk memadukan kekuatan Armada Inggris menghadapi musuh-musuhnya[Perancis,Denmark,Spanyol].
4. Merujuk  Buku Putih [meskipun definisi buku putih sendiri perlu dipertanyakan apakah bobotnya sama dengan produk strategik ?] terbitan Dephan yang terakhir (2003),untuk pertamakalinya menyebut-nyebut   OMSP, kontradiksi dengan kenyataan bahwa sebenarnya TNI sudah lama melakukannya,singkatnya operasi operasi yang pernah dilakukan untuk tujuan selain perang,misal bencana alam, ops bakti,dll.
5.”The Power In Doctrine”,Naval War College Review,Summer 1995,Cpt Wayne P Hughes(Navy Ret),Jr,Proff di NPS/Dept Opt Analysis,halaman 14.
6.Asymmetric : Myth in the US Military  Doctrine, Thesis MMAS, US Army War College, Maj Stephen D Pomper,US Army,June 2004,halaman 1,… the enemy is now an asymmetric threat ..dst.
7.Versi Russia ……doctrine is an officially accepted system of views in a given state and its armed forces on the nature of war and methods of conducting it and on preparations of the country and army for war, disarikan dari  “The Soviet Art of War, Doctrine,Strategy and  Tactics”, required reading matrerials for Naval war College Students, USA,rasanya  relative mirip,bukan ?.
8..”The Power in Doctrine”, Naval War College Review,Summer 1995,Cpt Wayne P Hughes (Navy Ret),Proffesor di NPS,Dept Opt Analysis,halaman 12 …. therefore the inclination of the US Armed Frces has been to describe doctrine as mere guidance,influential but not directive.,
9..”Mid-Level Service Doctrine : Is There A Need ?”, Naval War College Report Paper,Cdr Scott Emersson Thomas,USN,1999, halaman 3.
10. Konsep peperangan dewasa ini,nampak semakin effisien lagi ditambah adanya rencana kampanye yang telah  melibatkan NGO dan elit sipil. Definisi kemenangan sudah lebih manusiawi lagi, tidak dihitung lagi dalam format tradisional seperti jumlah korban musuh,luas teritori yang didapat,dll, namun lebih kepada effek yang diharapkan—munculah konsep yang disebut EBO (Effect-Based Operations),dan kalimat seperti …neutralize and attack the enemy’s forces,sudah berubah menjadi …attack  the enemy “leader”dan effek yang diharapkan dari kampanye militer tersebut menjadi semakin lebih menonjol.  EBO adalah harga yang diharapkan muncul, dan konsep ini sangat berhubungan erat dengan konsep RDO(Rapid Decisive Forces)………RDO is a concept to achieve rapid victory by attacking the coherence of an enemy’s abilities to fight. RDO employ our asymmetric advantage in the knowledge ,precision,and mobility of the joint forces against an adversary, critical function to create maximum shock and disruptions,defeating his ability,and will to fight,periksa “The Use Of EBO in Asymmetric Conflicts”, Thesis US Army War College,M(aster)M(ilitary)of A(rts)S(cience),Maj Magnus Lindstorm,Swedish Army,June 2004,halaman 7. Masih banyak lagi konsep EBO yang dapat didown-load dari situs Defense-link USA,NDU,Army War College,Naval War College,Air War College, atau Public Stinet,USA.
11.”Mid-Level Service Doctrine : Is There A Need ?”, Naval War College Report Paper,Cdr Scott Emersson Thomas,USN,1999,halaman 1,…. is there is a proper place for a service doctrine in this new joint  world ?
12.”Naval Perspectives on Military Doctrine”, Dr James T Tritten,NWCR Spring 1995,vol XLVIII,no 2,halaman 33….. even the US Army tends to use ”doctrine” even for the task of an individual soldier——————ROE?.   
13.” Naval Doctrine : An Analysis of the Effectiveness of NDP 1 and NDP 6 ”, Thesis NPS(Naval Postgraduate School),M(aster)of S(cience) in System Technologie,Cdr Anne Laura Westerfield,USN, June 1996,menceritakan betapa kuatnya Doktrin operasi gabungan dan doktrin C4ISR untuk ops gabungan,sebaliknya doktrin padanannya sendiri yakni operasi laut (NDP1)dan doktrin C4ISR(NDP6) bagi  Angkatan Laut AS dirasakan lemah.NDP adalah (Naval Doctrine Publication).
14.. ”Memahami  doktrin  militer”,  Kol Laut ( P ) Gatot S.
15..Munculah konsep PWO (principle warfare officers) versi Royal Navy atau SWO(surface Warfare Officers)versi USN—basisnya “quick reaction”.Buku suci tindakan-tindakan anti kapal selam, dll, dimuat dalam publikasi taktis NATO à Allied Tactical Manouvre & Procedures ( Doctrines )/ATP merupakan demonstrasi doktrin yang mendukung “quick reaction”.
16. CWC (Composite Warfare Commander) evolusi perkembangan dari OTC (officer tactical command). Sekarang OTC tidak terdefinisi lagi,tapi berubah menjadi CWC. Banyak contoh disini adalah kasus di-Angkatan Laut.
17.”The Power in Doctrine”, Naval War College Review,Spring 1995,Cpt Wyne P Hughes (Navy Ret),Proffesor  di-NPS,halaman 17-18.
18. ”Naval Perspectives on Military Doctrine”, Dr James J Tritten,Naval Doctrine Command,diambil dari Naval War College Review,Spring 1995,vol XLVIII,no.2, halaman 24 . …perhatikan  per definisi doktrin sesuai JP 01 relatif sama , hanya ditambahkan  kalimat employment of forces of two or more services , khusus doktrin operasi gabungan dalam 1 negara.Ada juga doktrin gabungan antar negara –– disebut combined opt, bukan joint opt.
19.Ibid, halaman 23.
20. ” Web-Enabled Doctrine  : The Evolution of a Dynamic Doctrine Development Process in The US Navy ”,  Thesis NPS,  M(aster) of S(cience) in Information System Technology, Ltn Joseph Fauth IV, USN, March 2001, halaman 2.
21.Menjadi “rule of thumb” dinegeri ini,seringnya produk “anak atau cucu” muncul duluan dibandingkan produk “induk atau orang tuanya”.

* Hint : Referensi diatas didapat dari download Internet via situs masing-masing Lembaganya.

__________________________________

Penulis ketua divisi Pertahanan FKPM (ex CDMS) &  PR III UPN “Veteran” di-Jakarta.

 

Posted in Kajian 2010.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>